ANDI ARTICLE

Blog EntryBECERMINSep 25, '08 12:43 AM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

Kembali ke masa lalu. Mungkin di antara rekan-rekan masih ingat saat kuliah dulu. Kantuk yang tak bisa ditahan akibat dosen sering ceramah bertele-tele. Atau saat menghadiri pertemuan dengan big boss dengan segudang penjelasan yang bertele juga. Membosankan, karena materi yang disampaikan tidak berbobot. Padahal poin inti yang seharusnya dijelaskan tidak dituturkan dengan gamblang.

Tentu tidak ada yang menginginkan seperti itu. Pasalnya, gaya seperti itu bahkan secara psikologi dapat mengganggu pola berpikir yang bersih. Kerap justru akan menjadi sebaliknya dengan penuh kebosanan. Atau kembali becermin melihat diri kita sendiri, apakah gaya dan bicara kita juga sering menonjolkan diri dan bertele? Jika ya, sifat seperti itu dalam pergaulan dan lingkungan harus cepat dijauhkan. Karena di belakang, Anda akan ditertawakan.


Kedewasaan berpikir bukan dibuat-buat untuk terlihat dewasa dan intelektual. Ia akan datang dengan sendirinya untuk sebuah penilaian dan hasil yang terbaik. Orang bahkan kadang menilai bukan pada bicara, tapi kelahiran ide perubahan dalam berbagai konteks, brilian dan percaya diri. Ini butuh proses dan ‘jam terbang’ banyak agar tidak terpaku seperti kodok di bawah tempurung.

Atau mungkin kita termasuk orang yang sering mengulang pendapat yang sering dilontarkan sebelumnya. Ini juga membuat pendengar dan teman atau orang-orang di sekeliling kita menjadi bosan. Bahkan dalam meeting pun kerap mengulang saran atau pendapat dari teman yang lain. Jangan mengulang pendapat yang pernah diutarakan agar terhindar dari ketidakpercayaan intelektual Anda. Cari ide yang fresh, dan baru karena orang tidak akan mendengar ide yang diulang meski dalam ‘kemasan’ berbeda.

Jika Anda seorang penulis, tentu sering mengedit kata-kata yang dinilai lebih singkat dan mudah dimengerti. Seharusnya, gunakan juga dalam komunikasi bahasa verbal agar yang disampaikan dalam mengekspresikan ide tersampaikan dengan tepat. Bagaimana dengan bumbu lelucon? Hati-hati dengan gaya lucu yang ditampilkan walau tak seperti komedi terkenal.

Oh ya, tanpa sadar kita pun sering membuat orang lain jenuh, karena pembahasan dan percontohan sering diarahkan pada diri sendiri. Jika bekerja dalam tim, maka tonjolkan tim bukan individu. Penting becermin, agar di belakang Anda tidak menjadi bahan tertawa. Cerminan itu penting dalam pergaulan keseharian kita.





Blog EntrySTAGNASISep 16, '08 12:31 AM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

Ada ungkapan nyentrik tidak bertele. Ada kalanya langkah terhenti oleh tindakan tersendiri dalam realitas. Di alam nyata, pengujian potensi diri sering terbentur oleh sebuah situasi. Potensi yang menuju kepada menguji kemampuan. Termasuk tindakan politik, gerakan sosial maupun komunikasi antar komunitas.

Proses itu tidak semudah menumpahkan segelas air atau mencabut sehelai rambut di kepala. Tetapi butuh perjuangan keras, pengorbanan, cinta, ketulusan bahkan butuh keyakinan penting. Jangan menganggap kerap seperti alur sungai tanpa bebatuan besar. Mengalir.


Kadang juga dalam pergulatan situasi seperti itu sering terbentur. Bahkan harus dan terpaksa berhenti di pertengahan akibat sebuah situasi yang terpaksa. Ini yang dinamakan stagnasi. Berhenti pada sebuah keadaan yang sulit menuju proses yang rumit.

Dalam kamus bahasa, stagnasi bisa diartikan sebagai keadaan yang berhenti, tidak bergerak, atau diam. Jika dibenturkan dalam realitas konteks Aceh, maka situasi politik yang stagnasi bisa jadi sebuah kendala pada cita-cita perubahan pascadamai. Atau bisa menjadi dilema pada situasi yang top.

Mungkin saja, stagnasi boleh disebut sebagai kemacetan jiwa. Saat sepeti ini ada rentan yang sangat dekat pada kemunduran. Rapuh dan mudah patah. Jika guncangan terjadi pada penghuninya, maka tak lama ia berhenti pada tujuan ekstremnya. Jika mengumpamakan cita-cita perubahan Aceh, maka akan terbentur yang kemudian menjadi mundur.

Dampak yang paling kontras adalah membiarkan kondisi tersebut. Jika kita ibaratkan Aceh, masih terlalu kekanak-kanakan karena masa transisi baru tiga tahun pasca-Helsinki. Dalam saat-saat sepeti ini, kebodohan, apatis, individualis semarak di mana-mana. Euforia muncul ke permukaan meski tak punya nilai.

Jika masa stagnasi ini berlaku, ada perlawanan yang seharusnya kita menjadi agent of change terhadap diri kita sendiri. Ini mungkin pergumulan wisata jiwa yang sedang bergentayangan mencari jati diri. Dan pada akhirnya harus sadar, bahwa keadaan yang statis, merupakan mundur ke belakang.

Aceh dalam realita yang bukan cet langet dengan segudang amunisi ide-de, notabene bergerak maju ke depan. Romantisme masa lalu mungkin sekadar cermin yang tak perlu diretakkan, apalagi dipecahkan. Cermin masa lalu sebagai background untuk menjadi senjata membunuh stagnasi. Maju!







Blog EntryRESISTENSISep 13, '08 1:05 AM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

Sekejab! Bukan vonis atas sebuah dilema realitas dalam kehidupan. Ada banyak hal menjadi barometer dari sebuah situasi. Misalnya, mengapa manusia alergi dengan perubahan? Mungkin jawabnya sederhana. Dalam kontek kekinian, manusia rasional ingin mempertahankan hidup.

Jawaban tak dibesar-besarkan. Bahkan alam sendiri mengajari makhluk hidup untuk dapat menghemat energi. Ular jarang bergerak bukan karena malas, tapi karena menghemat energi. Kura-kura malas mengeluarkan kepala karena ada saatnya energi digunakan pada waktu yang tepat.


Perubahan lingkungan, rumah dan pekerjaan, tentu menguras lebih banyak energi, bahkan perubahan diluar batas kemampuan dan batas toleransi dapat mengorbankan hal yang prinsip dan melanggar norma-norma yang berlaku. Pada dasarnya manusia juga sama dengan makhluk lainnya, tidak suka perubahan.

Secara alami manusia membuat ‘pola’ dalam tindakan, respon dan berpikir. Kebanyakan pola atau persepsi ini memang banyak menghemat energi. Sebagaimana kita tidak perlu mempertimbangkan, jika di pipi kita menempel seekor nyamuk, secara refleks kita ayunkan tangan untuk menampar pipi kita. Perubahan terhadap persepsi dan pola tindak, jelas kurang disukai karena kita harus memprogram ulang respon kita.

Sekarang jelas bahwa secara anatominya, resistensi terhadap perubahan adalah rasional dan seringkali juga tindakan pengamanan untuk ‘survive’, meskipun seringkali resistensi juga menghambat kemajuan budaya manusia. Perlu sebuah jawaban dari pertanyaan bagaimana seharusnya ‘melawan’ resistensi?

Resistensi tidak selalu terlihat, karena implementasi dari resistensi itu sendiri berbeda-beda. Ada yang hanya sekedar ‘tidak ikut’, apatis, sampai pada aksi ‘perlawanan’, tergantung dari kadar perubahan maupun kekuatan individu/komunitas yang resisten. Sikap resisten akan terlihat jelas apabila program transformasi diwujudkan, ada yang bersikap mencoba mencari titik lemah dari transformasi tersebut ataupun berusaha menjauhinya.

Jika begini maka manusia adalah bagian dari keingin individu yang selalu mencoba untuk tidak ingin berubah. Lantasan secara global menjadi sering ditanykan kepada banyak orang. Apakah perubahan itu datangnya dari luar? Atau dari dalam. Memungkinkan untuk dijawab secara rasional, bukan karena refleksi dari sebuah keadaan atau lingkungan.



Blog EntryTOPENGSep 10, '08 12:06 AM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

Bermain-main dengan topeng. Wah, permainan ini menyadarkan kembali masa kecilku setelah lama terlupakan begitu saja. Kesadaran menghayati kekanak-kanakan bangkit saat membaca tulisan seorang teman di ruangan péh tém. Memang unik!

Saya mencoba merenung kembali permainan itu. Permainan penuh canda dan tawa hingga lupa pada waktu. Peran-peran yang kucoba renungkan kembali meski aku sendiri tak ingat. Peran yang kulakonkan menjadi sirna dalam memori kepala.


Topeng masa kecil tak banyak polemik dan intrik. Benar-benar hanya sekadar topeng menyembunyikan keaslian, bukan menyembunyikan kepalsuan. Topeng kemunafikan dalam lingkup-lingkup kecil sekalipun.

Saya tak ingin komentar soal topeng itu lagi. Karena ada yang lebih unik jika dibandingkan dengan rekaman-rekaman kisah ketika saya berhadapan dengan komunitas di luar Sumatera. Ada permainan yang kerap dijadikan bisnis untuk kepentingan pribadi tanpa pertimbangan rasa.

Permainan “Topeng Monyet”. Pemainnya bukan manusia, tapi hanya seekor monyet yang dipaksa berlakon bertingkah manusia. Ada wajah monyet yang gelisah bercampur derita karena dipaksa menghasilkan karya agar penonton jadi ceria. Soalnya ya, jika penonton tidak ceria, gak bakal dikasih uang. Bisa-bisa permainan atraksi bisa gulung tikar.

Atraksi macam-macam! Jadi tertawa sendiri, sebab ada yang gaya seperti ‘Bos’ dan satunya lagi ‘bawahan’ sambil disuruh-suruh. Tingkah dibuat-buat saja biar penonton jadi lucu. Padahal saya tertawa bukan karena lucu, tapi kasihan (gak selamanya donk tertawa karena lucu).

Kasihan juga donk lihat monyetnya, kelelahan mencari uang. Banyak luka di sana sini yang tidak diobati. “Dasar tidak berperi kemonyetan, mau uangnya doang,” batinku. “Monyet itu tidurnya di mana ya?” Kasihan kalau tidur di sembarang tempat, bisa demam atau masuk angin.

Sambil senyum-senyum terlintas juga dipikiran jelek ini. Eh, monyet itu cewek atau cowok? Kalau cowok gimana dong gak pernah bertemu pacarnya. Begitu juga sebaliknya. “Kebutuhan biologis ditahan!”

Kok jadi cerita topeng monyet sich? Oke-oke begini aja deh! Pilih pawangnya atau monyetnya. Pilih nurani atau rezeki.



Blog EntryMEMUTUSKANSep 8, '08 12:30 AM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

Berani memutuskan sesuatu? “Tentu donk,” kata karyawan di sebuah perusahaan “Manyak-Manyak” beberapa waktu lalu. Memang bagi sebagian orang, mengambil keputusan kadang sangat sulit, sama sulitnya seperti membuat satu kebijakan.

Di blog, saya pernah menulis tentang mengambil keputusan. Mungkin ada yang sulit ketika berhadapan dengan banyak pilihan-pilihan dalam menjalankan sebuah realitas. Tetapi bagaimana jika tidak punya pilihan sama sekali? Ingin memutuskan apa?
Sedangkan realitas konteks tetap berjalan seiring waktu.


Bahkan kebingungan yang sering muncul ke permukaan, bukan kesenangan. Mengejar ambisi-ambisi yang terus lari dalam lorong-lorong pengecut. Karena keberanian sudah awal terkubur dalam bilik-bilik tanpa irama.

“Hidup sebuah pilihan” adalah kata usang yang sering diucapkan banyak orang. Jika “Hidup sebuah pilihan” tentu ini memerlukan sebuah keputusan. Jadi bagi kita yang masih belum berani untuk itu, maka anggap ini sebuah laboratorium baru untuk uji coba. Belum lagi menyangkut dengan hal-hal yang akan diputuskan. Lebih sulit donk.

Bagi orang yang sadar bahwa posisinya harus mengambil keputusan, ia tak akan ragu untuk memutuskan. Sebab keraguan sedikit saja akan merusak kredibilitasnya sebagai pengambil keputusan. Banyak hal di dunia ini yang tak akan berjalan normal tanpa sebuah keputusan.

Maldini tidak akan pernah mencetak goal, meski kiper lawan sudah terjatuh. Hingga ia berani memutuskan sesuatu untuk kemenangan. Kenapa contohnya Maldini? Karena dia pemain favorit saya. Bayangkan jika seluruh rakyat Endonehsya tak mengambil keputusan saat Pemilu?

Bayangkan lagi jika Pemred, Redpel, Redaktur dan wartawan tidak berani memutuskan mana berita yang terbaik? Apa jadinya wajah koran. Bayangkan jika sebelumnya Anda tak pernah mengambil keputusan, maka posisi tak akan pernah ada.
Sama saja ketika Anda tak pernah mengambil keputusan untuk menikahi perempuan pujaan? Jadi, segala hal yang terjadi dalam kehidupan ini memang harus diputuskan. So pasti.




Blog EntryKAWANSep 5, '08 3:30 AM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

Belakangan kucoba renung kembali. Renungan yang tak begitu berarti, tapi minimal membawa alam bawah sadar saya pada dua hal. Pertama soal hubungan kerja, dan yang kedua adalah penamaan kebersamaan dalam ruang lingkup solidaritas.

Hubungan kerja awalnya hanya dibentuk pada penyamaan tujuan. Persepsi yang sama akan membawa keinginan dalam menindaklanjuti sesuatu yang belum terwujud. Dalam pemahaman ini, perlu juga diungkapkan seberapa besar kesamaan kerja bisa mempengaruhi semangat kerja. Berbalik-balik deh.


Sebelum menelusuri kenapa persamaan bisa terbentuk menjadi solidaritas, mungkin kita harus bertanya seberapa penting memahami istilah filosofi membentuk konsistensi budaya kerja? Ini perlu agar tidak melewati kontribusi dan keinginan porsi.

Mungkin jawabannya adalah seberapa konsistensi tersebut merasuk menjadi sebuah kerangka berpikir yang kokoh, sehingga filosofi mampu menjadi cermin. Memantulkan sinar semangat untuk bekerja secara bersama untuk merealitaskan ide-ide yang terkukung.

Apa hubungannya? Tetap saja ada jika dilihat dari konsistensi pemikiran yang disumbangkan dalam mengembangkan sebuah usaha. Kesalahan terbesar bangsa kita adalah meminta sesuatu melebihi porsi benefit yang diciptakan—mungkin ada keadilan yang tak tercipta.

Jika melihat kehancuran bangsa bahkan perusahaan sekali pun, itu disebabkan oleh orang yang cenderung meminta benefit melebihi kontribusi yang diberikan. Hingga menjadi ending saling menjatuhkan dalam kontek persaingan pemikiran yang tak sehat—seperti anak kecil yang dijatuhkan permen dan saling berebut.

Jarang memahi filosofi tepat untuk membangun. Substansi menjadi saling berbagi ketika kebersamaan membangun dikedepankan, ketimbang porsi awal tak menentu dibangun untuk sebuah kemajuan. Kesejahteraan yang diinginkan tak berujung pada solidaritas kebersamaan.

Kawan dalam ruang kebersamaan adalah kawan yang mencoba memahami filosofi tersebut. Jika dianggap kawan sebagai kepentingan, maka menyatukan dua kontek penciptaan porsi benefit dengan kontek kontribusi selalu bertabrakan. Hasilnya? Menciptakan kesenjangan perebutan yang tak perlu diperebutkan.

Saya pernah menyadari, menabrakkan diri pada keinginan benefit bagi kebanyakan orang dianggap munafik. Tapi bagi ketidakmunafikan adalah memalukan, karena saya adalah porsi tersendiri yang tak bersinggungan dengan nama latar belakang. Menghargai latar belakang atau kekinian?

Kawan, mungkin alam bawah sadar menjadi petaka untuk tidak selamanya ada. Karena ada banyak ungkapan sering diucapkan; Tak ada kawan sejati karena yang ada hanyalah kepentingan abadi.

Itu pun tak membuat saya optimis dalam konsistensi kerja. Karena saya ingat pepatah dari antah barantah; Jangan pernah percaya perempuan yang mengucapkan cinta kepada kamu dalam keadaan telanjang. Masih optimis kawan?



Blog EntryDilema Kepulangan Warga AcehAug 30, '08 6:16 PM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

“Memang betul Aceh sdh damai & aman, tapi kami juga butuh kesejahteraan,. Pemerintah Aceh hrs utamakan masa depan wrga Aceh dan dapat menyediakan lapangan kerja. Kami tak ingin jadi penggangur krn menyusahkan orang lain”

Pesan di atas dikirim seorang teman dari negeri jiran, Malaysia melalui Sort Message Service (SMS), Kamis (28/9). Ada ribuan warga Aceh kini dalam kegamangan dan ketidakpastian. Mereka khawatir setelah kerajaan malaysia menyatakan tidak memperpanjang lagi kartu tsunami bagi warga Aceh.


Teman itu juga kembali bertanya sekaligus meminta, bagaimana nasib kami? Sampaikan SMS ini ke pemerintah Aceh agar dapat merayu kerajaan Malaysia. Bahkan mereka lebih khawatir ketika pihak imigasi Malaysia memberi batas waktu hingga 5 Januari 2009. Pertanda, mereka tinggal menghitung jari untuk tetap bertahan di negeri jiran.
Pernyataan itu disampaikan Ishak Mohamed, Direktur Pelaksana Departemen Imigrasi, Malaysia dalam sebuah surat kabar International Herald Tribune, Selasa (26/8). Pernyataan itu tak hanya menghentakkan ribuan warga Aceh di seberang, namun pemerintah Aceh juga dibuat kelabakan.
Untuk kesekian kalinya, Pemerintah Aceh harus mengemis. Tak ada pilihan lain selain melakukan langkah strategis menciptakan sebuah kondisi yang tidak sulit. Wakil Gubernur Aceh dengan nada pasrah mengatakan, jika mereka dipulangkan secara bersama maka sangat sulit memberi mereka pekerjaan.
Ini keputusan pahit bagi 25 ribu lebih warga Aceh di negeri jiran—yang terdata saja--Dalam satu kesempatan, saya pernah berdiskusi dengan warga Aceh pertengahan Juli 2008 lalu di Choket, Kuala Lumpur. Dalam kesempatan itu mereka berharap, kartu tsunami bisa diperpanjang untuk memudahkan mereka mencari kerja.
Dengan alasan, di desa-desa yang mereka tinggalkan tak ada banyak harapan. “Akankah kami harus kembali duduk di warung kopi sehari suntuk?” kata Hamdani, warga Desa Lancok, Kecamatan Bandar Baru, Pidie.
Kekhawatiran Hamdani sama dengan ribuan warga Aceh lainnya. Pengangguran bukan hanya sekadar menciptakan kesengsaraan, namun juga menciptakan situasi yang dekat dengan kriminalitas. Meski kriminal dalam ruang lingkup terkecil sekalipun. “Untuk apa damai jika kesejahteraan rakyat Aceh belum didapat?” tambahnya.
Sebuah dilema bagi pemerintah Aceh. Sebab ada ribuan pengangguran yang terlebih dahulu ada di Aceh. Jika pun ditambah dengan 25 ribu lebih pengangguran lagi, maka kecemasan Aceh untuk terjadinya kekerasan baru terbuka peluang. Kita tak menginginkan ini terjadi. Ada sebuah pepatah klasik; Keberanian hanya ada pada orang lapar, bukan pada orang kenyang.
Mungkin benar kata mereka. Liat saja data dinas Tegana Kerja Privinsi Aceh yang menyebutkan, bahwa ada lima ribu pekerja siap pakai—berpendidikan--hingga kini masih nganggur. Bayangkan jika ada ribuan lainnya yang belum siap pakai? Tentu ini dilema beruntun menciptakan sosial konflik di tanah yang terlanjur berdarah.
Kekhawatiran yang wajar jika melihat ada 49 persen jumlah penduduk miskin dari total 4 juta jiwa. Belum lagi korban konflik mencapai 50 ribu lebih, termasuk mantan Tentara Nanggroe Aceh (TNA) sebanyk 12 ribu lebih, dan mereka belum punya pekerjaan.
Lihat saja laporan ekonomi Bank Dunia, pada November 2007, menjelang tugas BRR selesai pada April 2009. Peningkatan sumbangan sektor ekonomi konsumtif dan investasi terhadap perekonomian Aceh. Sektor konsumsi swasta menyumbang 49 persen dari total Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Aceh tahun 2006. Namun, sumbangan bidang investasi terhadap PDRB Aceh pada tahun 2006 hanya 14 persen.
Jika benar seperti yang dilaporkan World Bank, maka pemerintah Irwandi dan Nazar harus bekerja ekstra keras menghadapi dilema dan kekhawatiran tersebut. Jika tidak maka tantangan akan terjadi konflik secara umum akan meluas. Inilah yang perlu dilihat dalam konteks kepulangan ribuan warga Aceh di Malaysia. Jika benar apa yang dikatakan Hamdani, maka damai tanpa memberi ruang bagi akses ekonomi akan menjadi momok tersendiri.

Ekonomi juga merupakan faktor penting menciptakan damai permanen. Politik yang bagi kebanyakan orang adalah pertaruhan hidup dan mati seperti perjanjian di Helsinki tak banyak membawa manfaat jika kesejahteraan yang disebutkan dalam Memorandum of Understanding (MoU) menjadi sebuah utopia. Jika hanya memberi obat penenang demi perdamaian stagnan.

Sebelumnya, sektor pertanian yang menjadi andalan penyerapan tenaga kerja tidak mampu berbuat banyak. Dan pemerintah sendiri mengakui hal itu sebelumnya, melalui Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Aceh, Abdul Rahman Lubis, bahwa permasalahan ketenagakerjaan merupakan salah satu persoalan yang harus dicarikan solusi.

Bayangkan kondisi Aceh kini, pengangguran sudah mencapai 76,89 persen dari penduduk Aceh 4,2 juta jiwa. Dari jumlah tersebut, maka kemiskinan pun ada di depan mata hingga mencapai 48,23 persen. Jika pemerintah tidak mempu menekan angka kemiskinan, maka sudah pasti itu merupakan musuh perdamaian.

Jika dilihat dari angka dan kondisi Aceh kini, sepantasnya pemerintah mulai sekarang melakukan langkah strategis dalam kontek menciptakan perdamaian pernanen. Mungkin benar apa yang dikatakan rekan saya, bahwa damai harus diiringi dengan kesejahteraan warganya. Tak perlu mengemis dari negara jiran, jika Aceh masih dianggap sebagai wilayah kaya.

Dalam bahasa saya, damai tak berfungsi substansial jika pemerintah tidak mampu menurunkan angka kemiskinan. Ada hembusan angin surga yang dikatakan awal Juli tahun 2007 lalu oleh Kasi Informasi Departemen Ketenagakerjaan (Depnaker) Aceh, T Dami SH, bahwa tahun 2008 pemerintah akan memprioritaskan pembangunan ekonomi, memperluas tenaga kerja dan upaya penggulangan kemiskinan. Sudah terasakah hingga mamasuki Agustus 2008 ini?

Saya ingin katakan bahwa kepulangan warga di Aceh tidak menjadi momok menakutkan, apalagi dianggap sebagai bencana. Seharusnya pula, kepulangan mereka bisa dilihat dalam kontek yang positif guna memajukan perekonomian Aceh ke depan. Tak perlu mengemis, jika Aceh dianggap sebagai sebuah bangsa di mata ban Sigom Donya. Dilema yang tak seharusnya menjual harga diri sebagai sebuah bangsa.***

Ketua Kajian Center for Conflict and Resolution Studies (CCRS)


Blog EntrySULITAug 29, '08 7:07 PM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

Lama tak menulis di péh tém. Kini saya mencoba menorehkan ide dalam tulisan yang terbatas. Meski tak bermakna, namun setidaknya ini sebuah realita dalam kegamangan tanpa arah.

Ini hanya soal pergaulan yang kerap kita jumpai. Terutama orang-orang tertentu yang sulit dihadapi. Mungkin ‘manusia’ jenis ini kita jumpai di kantor dan pergaulan dalam berbagai variasi, watak serta pola pikirnya.

Sebut saja tipe orang yang tak hentinya bicara. Bicara lugas terhadap sebuah realitas untuk perubahan. Ini soal ambisi yang harus disesuaikan dengan karater dalam pergulatan dan pergaulan keseharian. Satu sisi positif, namun tak sedikit menjadi negative.

Lebih parahnya lagi, ada kalanya ada teman sering mengkritik, meski bukan bidangnya. Apalagi bidang yang menjadi ahlinya. Ini juga perlu dilihat sebagai sensasi dalam ruang hampa tanpa demokrasi. Artinya, kebijakan pada kesadaran individu yang tak dilahirkan dalam lingkup kebersamaan.

Ada juga orang dengan ketidakkomitmennya. Tidak menghargai komitmen dalam pengertian merubah sebuah kondisi awal ke kondisi yang baru. Hingga sering dalam perjalanan menjadi ‘abu-abu’ di antara hitam dan putih. Di antara melakukan gebrakan dengan bertahan di tempat.

Bagaimana dengan orang yang membentuk ‘geng’ tanpa sepengetahun kita? Mungkin pada awalnya tidak menjadi masalah. Pada akhir gilirannya tetap akan menjadi persoalan tersediri yang berpengaruh pada lingkup kita. Sebab ‘geng’ adalah bagian terkecil dari kelemahan melakukan sebuah terobosan. Perlukah ditelusuri?

Menurut kolumnis soal Sumber Daya Manusia (SDM), Susan M Heathfield, bila kita mendiamkan sulit seperti itu, maka dengan sendirinya situasi akan berubah. Biasanya menjadi lebih buruk. Cuek atau hanya sekadar memperbaiki situasi di atas permukaan yang sebenarnya adalah konflik, sehingga kontraproduktif pun meledak.

Bisa saja ‘shock’ jika kemudian dianggap tak professional maka renungkan bahwa sebuah situasi sulit sedang terjadi. Jika kita menyadarinya, bukan merupakan pilihan terbaik berlama-lama pada kondisi itu. Kemudian melangkah ke situasi yang semakin tak rasional.

Alangkah baiknya, jauh lebih baik menghadapi orang yang sulit tapi masih bersikap objektif dan dapat mengendalikan emosi. Lebih penting lagi adalah membiarkan diri terlibat dalam konflik berkepanjangan bukan hanya kita dianggap ‘tidak becus layaknya sebagai pekerja profesional’ bahkan kita sendiri akan dicap sebagai orang sulit.

Saya tak ingin berada pada posisi sulit dan menyulitkan untuk sebuag variable pemicu konflik. Tahapan ada pada genggam kemesraan melakukan terobasan. Jangan kerap menunggu yang kemudian terus menjadi ‘abu-abu’. Sulit.


Blog EntryMengejar Ambisi PolitikAug 14, '08 3:55 AM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

Sebuah tontonan kematian sudah berakhir. Layar perang ditutup pada 15 Agustus 2005 di Helsinki, Finlandia. Jutaan mata menjadi saksi atas berakhirnya drama berdarah itu. Aceh ‘selesai’.

Episode konflik membuat penonton histeris. Menumpahkan air mata dan tak sedikit mencela. Ini drama kebiadaban yang digelar para tokoh. Sedangkan pemain larut dalam skenario sutradara untuk ambisi kepentingan. Lupakan drama masa lalu.

Kini suasananya sudah berbeda. Iklim demokrasi kian terasa. Ada pemain-pemain yang beralih peran untuk drama selanjutnya. Menjadi politikus yang sebelumnya hanya berperan sebagai tukang sapu. Menjadi kontraktor, padahal dulu hanya ‘mafia’.

Ini ‘mungkin’ hanya sekadar evaluasi atas kegagalan drama berdarah sebelumnya. Kemudian yang memiliki kepentingan mentransisikan permainan baru untuk kepentingan baru pula. Dan, penonton gamang, mana sebenarnya tokoh utama yang harus dipercayakan, sebab sutradara selalu bermain di belakang layar.

Ada yang berbeda, ketika peralihan situasi maka sebagian yang lain mengusik syahwat politiknya. Tak hanya tokoh politik, tetapi kalangan praktisi, elit partai dan pemimpin organisasi mulai tergoda dengan peran baru. Politik praktis. Terang-terangan mengejar ambisi, karena ini drama baru.

Sebenarnya penonton tahu, bahwa pemain drama sekarang adalah pemain yang sama. Hanya lipstik, simbol dan penampilannya yang berbeda. Bahkan tak ada yang berubah dari hiasan dan pernak-pernik menarik simpati. Jika dulu merah, sekarang masih merah, jika dulu kuning, kini masih sama.

Memang bicara politik bukan harga mati. Apalagi dikaitkan dengan untung rugi. Berbeda dengan bisnis. Misalnya, dulu orang memilih tokoh A karena berani, sekarang memilih tokoh B karena ngeri. Apalagi dipaksakan senang setelah sodoran intimidasi. Atau demokrasi hanya ada dalam pikiran, bukan di alam kenyataan.

Diakui atau tidak, bahwa pergeseran pergerakan untuk perubahan bukan berarti tak bermasalah. Bahkan sering kekerasan berbicara dalam bentuk fisik. Ketakutan penonton jangan terus diperlihatkan, karena semakin sering terjadi seiring itu pula kebosanan mewarnai.

Saya tak menganggap ‘pertunjukan’ di Aceh adalah tradisi. Apalagi memahami bahwa praktik ‘politik kekerasan’ merupakan warisan indatu. Saya hanya melihat, bahwa kerangka permainan ‘konflik’ berawal dari perbedaan perspektif berpikir. Tentu ada ketentuan konsep ideologi berbeda yang sedang bergentayangan di Aceh.

Gentayangan itu sensitif. Sedikit saja tersinggung, bukan tak mungkin fisik bertemu dalam suasana musuh. Perkawanan menjadi urutan kedua, karena kepentingan sudah lebih awal di nomor satu. Kepentingan merebut jatah otoritas politik di kursi-kursi masa bodoh. Perkawanan di masa lalu hanya sekadar romantisme kelam, hitam dan menyedihkan.

Kawan yang sekarang menjadi peserta kontestasi di berbagai ajang. Kawan yang sudah lelah dalam permusuhan dan kini mencari ruang-ruang kedinginan. Kawan yang lupa pada korban akibat disiksa di pengungsian. Kawan melupakan para pengorban nyawa. Dan bahkan kawan yang lupa pada kebiadaban membunuh bagi tanpa dosa.

Kini kawan itu tak terduga telah menjadi aktor berbeda. Dari sebelumnya hanya aktor pembantu, sekarang menjadi aktor kawakan. Bahkan ingin menjadi pemimpin drama, seperti mengatur skenario di gedung dewan. Ambisi menjadi sutradara merambah perpolitikan di Aceh. Meski tak mengerti isi-isi naskah yang disukai penonton, karena baginya dia tetap seorang ‘aktor’.

Ambisi tersebut mulai diperlihatkan secara terang-terangan. Karena dalam pikirannya hanya satu “penonton tidak tahu”. Padahal apa yang diperankan telah lucu. Sekali lagi, jika drama berdarah sebelumnya penonton menjadi saksi bisu, jangan harap akan selamanya begitu. Karena penonton akan mencela pelakon yang bermain tak sesuai skenario perubahan Aceh. Cita-cita indatu.

Kejarlah ambisi politik yang sudah kamu perjuangkan selama puluhan tahun. Bak wanita cantik yang sedang diperebutkan, sementara istri lama ditinggalkan tanpa bekas penghargaan kesetiaan. Ini drama Teungku, jangan terlalu terjebak mencari simpati, sebab wajah dan gerak semakin jauh dari kesan terkesima. Dan penonton bukan diam, tetapi sedang mencari strategi untuk mencela.

Ada empat juta penonton di Aceh. Bukan tak mengerti seni peran, namun sedang berpikir merancang taktik, sebab fase drama ini tak selamanya terjadi. Ada fase drama selanjutnya, dan bagaimana menyingkirkan pelakon yang lupa pada fase drama-drama sebelumnya. Karena seni pertunjukan perpolitikan Aceh membuat penonton pintar dalam penilaian tokoh terbaik.

Teruslah bermain dengan drama politik sebelum layar ditutup. Jika tidak, maka pada pertunjukan selanjutnya tak lebih sebagai pecundang. Apalagi ini bisnis di ladang ekonomi yang merangsang untuk maju dalam pertarungan selanjutnya. Ambisi hanya karena syahwat pada demokrasi menjelang Pemilu 2009. Terserah!




Blog EntryGELAPAug 11, '08 3:06 PM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

Secercah pelangi harapan mendulang dalam redup malam. Aku sendiri berharap cahaya dari pelangi remang. Bukan sekadar berharap kemudian terus pergi. Mungkin ada banyak rekan takut kegelapan, hingga perlu sedikit cahaya penerangan. Jika satu sisi kegelapan adalah ketakutan, maka sisi yang lain berarti ilusi.

Ada banyak orang, inspirasi lahir ketika gelap. Tapi tak sedikit bahwa gelap adalah petaka. Memahami ide sambil menerang, kemudian yang terlihat adalah gulita. Mungkin ada di antara kita, mencoba melihat pelangi dalam gelap. Memejamkan mata, kemudian melihat warna-warni.
Melihat pelangi dalam gelap jangan berharap jadi kenyataan. Sama seperti berpikir atas ilusi dan utopia perubahan. Tak akan pernah menjadi sebuah realitas memaknai kekinian perubahan. Boleh berangan-angan, maka akan terbayang keindahan, masa depan dan sebagainya. Tapi tanpa alat ukur, maka ide perubahan adalah cet langet.

Masalah pada kenyataan inilah yang membebani pikiran banyak orang. Gamang boleh jadi. Namun yang lebih menyiksa adalah membebani perasaan orang yang mengalaminya. Kemudian kerap respons emosional sering kali berkutat dan menjadi rumit. Sebab tak ada platform dan format sebagai kerangka acuan untuk bergerak.

Jika si buta berjalan dalam kegelapan, maka tongkat menjadi ukuran sejauh mana dia harus berjalan. Bagaimana dengan kita? Onani pemikiran menjadi kelucuan, dan penonton akan tertawa terbahak. Sebab, bermain drama dalam gelap tanpa konsep menjadi olokan dan bahan tertawa. Ini drama publik.

Inilah gelap model kita ‘mungkin’. Gelap yang bagi banyak orang menganggap tak kunjung selesai. Bahkan tak sedikit yang meyakini, semakin hari kegelapan semakin kusut. Jika masih bertahan boleh jadi, namun apa jadinya jika tahap akhir berada di jalan pintas?

Memang ini menjadi pekerjaan tersendiri, termasuk melihat pelangi dalam gelap. Bahkan menerawang dengan tongkat penyangka. Hasilnya, ketika mata terbuka tak juga menjadi nyata, Pelangi dalam gelap hanya ada dalam ilusi belaka.



Blog EntryOnde MandeJul 29, '08 3:41 AM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

Menyebalkan! Hingga suara onde mande—tak mengerti apa maknanya—yang disuarakan seorang rekan di balik meja kerja. Sebelumnya ada kata, Aneeeeeek, onoooooo, dan kata lempap. Kini ode mande kerap disuarakan untuk melepaskan penat pikiran yang saban hari dihadapkan pada rutinitas editing berita. Ya.


Bahkan, kerap teriakan itu akibat besarnya tekanan saat bekerja. Atau ada teman cerewet—meu pep-pep—mengelurkan keluh kesah untuk memajukan sebuah perusahaan. Keinginan besar itu pula, ambisi dan lain sebagainya membuat panik karena rasa tanggung jawab. Apalagi tidak puas dengan pekerjaan bahkan mencela hasil kerjanya sendiri.

Jika begini, maka Anda sedang dihadapkan apa yang dinamakan burnout atau jenuh. Jika sedang merasa ‘teman’ burnout datang, maka jangan anggap enteng lho. Salah-salah bukan hanya pekerjaan yang terganggu, tapi kesehatan Anda juga terancam. Bayangin kalau harus keluarin uang untuk yang gak perlu. Gila!

Ada beberapa saran. Pertama mungkin kita bisa nikmati kehidupan di luar pekerjaan. Duduk sambil ngobrol dengan secangkir kopi, atau main catur—jangan taruhan—sambil membuang pikiran ke masalah lain. Bagaimana yang kedua? Buat saja kesalahan kecil atau pekerjaan yang lucu di mata orang lain. Mungkin ini bisa merangsang imajinasi dan tantangan baru tercipta.

Apa rencana ketiga? Jangan menjadikan Anda sebagai seorang yang individualis. Jika begini, masalah kecil menjadi besar jika Anda tanggung sendiri. Bagi-bagi masalah dengan rekan-rekan kerja—kan gak ngeluarin biaya—mumpung teman lagi mau gratis. Siapa tahu teman kerja punya solusi kerja Anda.

Nih ada soal satu lagi. Meditasi cepat jika Anda bekerja semakin mudah terserang stres. Hee..heee bisa juga untuk mengatasinya catat semua masalah yang membuat Anda stres. Udah dicatat? Jika sudah renungkan catatan Anda kalau lagi berada di rumah. Misalnya, hal-hal apa saja yang membuat Anda stres, dan cari solusinya. Gampangkan? Toh di perusahaan kita kan sebagai tukang kerja, bukan pemilik. Jadi kerja profesional aja.

Semoga, kerja menjadi nikmat tanpa dibebani rasa frustrasi dan kesal. Hidup sudah pasti tua, tapi jangan bebankan pikiran yang membuat Anda semakin cepat tua. Ondeeeee..Mande.





Blog EntryStagnasi Perubahan Era TransisiJul 25, '08 5:01 PM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

Sederet perlawanan lahir atas fluktuasi politik karena situasi yang stagnan. Sehingga akumulasi frustrasi dari kumpulan emosi menjadi alternatif dengan sendirinya dalam menerobos perubahan.

Perjuangan memahami identitas sebagai sebuah bangsa masih dalam proses. Pasca perjanjian damai Pemerintah Indonesia dan GAM di Helsinki, konsolidasi demokrasi di masa transisi menjadi landasan awal. Kini Aceh memasuki fase kritis dalam perspektif saya. Bukan dalam pemahaman fisik, tetapi dalam pemahaman pemikiran menuju pertarungan tujuan.

Kritis dalam pemahaman saya adalah, ketakutan yang tak mampu mempertahankan cita-cita perubahan. Bukan kritis dalam konteks jangka pendek semisal terjadinya aksi kriminal, perampokan dan sederet kritis fisik akibat akumulasi frustrasi dari kumpulan emosi. Meski itu juga bagian yang harus diakui keberadaannya.

Saya tidak melihat sejarah sungsang Aceh dengan warna warni latar belakang. Terlalu bertele, dan bahkan tak sedikit perbedaan melihat Aceh dari background sejarah. Budaya dan gerakan perlawanan contohnya. Ada banyak hal yang mesti diperdebatkan, meski dari generasi ke generasi.

Untuk itu, ada baiknya saya melihat pasca 15 Agustus 2005. Ada catatan situasi tersendiri untuk dijadikan sejarah 20 atau 30 tahun ke depan. Jika pada zaman kekinian, pengelolaan situasi ini gagal, maka sejarah selalu mengulang kembali dalam situasi yang tak jauh berbeda. Percayalah.

Memang, pada fase awal yang ingin saya katakan adalah munculnya optimisme. Boleh jadi karena kebosanan dan pemikiran radikal yang prematur hingga masa transisi ini dijadikan sebagai optimis. Bahkan euforia politik menjadi tak terbendung, sebab optimis datang dengan harapan perubahan. Partai baru muncul bak jamur di musim hujan.

Kemudian kebebasan mengeluarkan pendapat terbuka luas. Penyebaran informasi melalui media pun lahir. Terbitnya media lokal baru misalnya, dari sebelumnya hanya satu media harian, kemudian menjadi tiga media cetak. Kebebasan pers bukan impian yang dengan susah payah diperjuangkan—ada juga yang keblablasan.

Fase demi fase ini berjalan. Mengalir untuk sebuah euforia politik beragam tujuan. Termasuk memetakan apa yang sering disebutkan kawan ideologis dan kawan taktis dalam perubahan kian kabur. Karena fase ini berjalan seperti ‘kenikmatan’. Mencicipinya pun tentunya dari berbagai kacamata. Menjadi kontraktor, menjadi tokoh politik, atau sebagai pekerja profesional.

Ini sekadar bayangan fase awal pasca perjanjian di Helsinki. Ada juga fase ini disebut sebagai masa transisi atau peralihan situasi dari tanpa demokrasi—konflik—menjadi situasi yang sedikit demokratis pada tataran permukaan. Sekali lagi, bukan pada tataran pemikiran. Jika fase ini lewat, maka fase selanjutnya muncul di atas permukaan.

Katakanlah, pada fase awal ada segudang harap menanti, kemudian malah cemas yang berganti. Ada ratusan mata korban konflik menanti harapan, sementara yang datang justru ketidakpercayaan. Korban konflik menagih janji karena korupsi, pulang membawa kecewa (Harian Aceh Independen, 24/7).

Jika pengelolaan masa transisi ini tidak diakomodir demi mencari format pengakomodiran pembentukan pemikiran demokrasi, lalu tinggal bilang bahwa masa transisi telah lewat. Yang tinggal hanya ketidakpastian, dan romantisme hanya tinggal kenangan bagi pelaku pudar ideologi. Ideologi yang telah mematikan ribuan orang demi cita-cita.

Apa yang terjadi? Kesadaran rakyat goyah akibat ketidakpastian yang mematikan ini. Dalam situasi begini, bukan tak mungkin fase sejarah berikutnya akan muncul karena fluktuasi akumulasi yang stagnan, dan sejarah selalu berulang kembali. Fase kedua inilah yang menjadi alternatif menerobos kebuntuan yang ada. Bukan mustahil, arus baliknya adalah gelombang premanisme baru.

Keterbukaan tanpa korelasi dengan peningkatan kesejahteraan. Demokrasi yang jauh dari perubahan. Bahkan kebebasan yang melahirkan kekacauan. Pers bebas terus mengipas bara panas. Partai-partai baru gila uang. Pertentangan individu dengan kelompok makin membesar. Yang tanpa pekerjaan diarahkan ke aksi brutal.

Mungkin ini fase yang disebut sebagai kegagalan mempertahankan tujuan masa transisi. Aceh adalah rentetan sejarah yang belum usai. Euforia kegalauan politik dengan mengorganisir diri tanpa tujuan politik adalah sama dengan bermain-main dengan bara api. Sebab rasa kecewa belum sepenuhnya padam.

Kita boleh saja bangga, karena bisa keluar dari petaka dan air mata dalam kurun waktu puluhan tahun. Boleh saja merasa lega. Tapi masih ada yang menyesakkan dada, karena ketidakpuasan, kriminalitas dan berbagai tindak kekerasan masih tetap mewarnai dan menghantui masyarakat kita.

Pertarungan politik pada masa transisi ini adalah ujian memaknai perubahan secara global. Boleh melihat jauh ke depan, tetapi melihat jauh ke belakang dengan me-review kembali keabsahan pengorbanan untuk tidak menjadi hidup yang absurd. Bisa diartikan sebagai hidup tanpa makna dan penghargaan atas yang dikorbankan.

Seperti saya katakan, ini situasi ‘kue kenikmatan’ jika memposisikan diri sebagai pembeli. Tetapi sebaliknya jika berada pada posisi koki, maka ‘kue’ tak pernah Anda nikmati. Hargai pelanggan yang masih percaya Anda sebagai koki. Jika tidak, bukan hanya kepercayaan pelanggan yang hilang, tapi kedai pun tak berani Anda buka pada fase berikutnya.




Blog EntryJangan Menabur KekerasanJul 23, '08 2:33 AM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

kekerasan terjadi dalam wujud impitan beban hidup yang makin berat bercampur rasa frustasi. Ini akibat komplikasi situasi yang serba sensitif.

Partai politik mewabah. Virusnya gencar disebarkan. Poster, stiker, iklan dan bendera partai. Ini bukan hanya sekadar eforia dalam perpolitikan setelah puluhan tahun Aceh dirundung duka. Tapi karena bebekuan mengutarakan aspirasi tak ada tempat sebelumnya.


Ini bukan zaman siapa kalah dan siapa menang. Ini zamannya kran demokrasi terbuka untuk berserikat ria dalam suatu wadah politik. Bicara partai sudah tentu ujungnya adalah soal pembagian kursi. Soal ingin perubahan hanya sekadar lipstick dan jargon semata. Jalurnya singkat dan praktis.

Ada satu jargon para elite. Isinya begini; menang kalah soal biasa, yang menang tak harus sombong, dan yang kalah jangan marah. Itu ucapan yang tidak bersahabat dengan realita. Liat saja aksi partai yang tak lulus verifikasi. Mereka menuduh Komisi Independen Pemilihan (KIP) tak professional dan lain sebagainya.

Sebagian lainnya melaporkan ke polisi. Intinya, ada segudang duka yang belum memuaskan. Marah sudah tentu. Kecewa pasti. Wajar bagi yang tak lulus. Tapi bagaimana yang dinyatakan lulus? Menancapkan kekerasan dalam bentuk pemikiran sudah mulai diperlihatkan. Mendominasikan pikiran kelompok partai kerap dipertontonkan. Mungkin sepeti tak ada kesempatan untuk berbeda.

Yang merasa diri besar juga tak selamanya menerima sebuah kenyataan. Ketakutan akan kekalahan menjadi momok menakutkan. Sulit menerima kekalahan sudah dipertontonkan kini. Apapun risiko mereka lakukan, meski kekerasan bukan dalam bentuk fisik, namun dalam bentuk pola pikir sudah terjadi.

Di negara ini, kekalahan yang berujung pada kekerasan sudah jadi tabiat. Sama seperti budaya korupsi, keinginan melakukannya sungguh tak bisa diredam. Memang pada awalnya kekerasan fisik tak banyak terjadi. Namun tanpa terlihat, intimidasi mewarnai.

Elite Aceh sepertinya belum jera. Ingat kasus simpang KKA, Beutong Ateuh, Bumi Flora dan sederetan kasus lainnya? Belum lagi korban tsunami dengan jumlah ribuan korban. Kejadian di atas merupakan peristiwa mengerikan dan masih meninggalkan trauma bagi yang masih punya nurani.

Kita terlalu cepat melupakan masa lalu. Sehinga tanpa sadar, kita menyelam ke masalah baru. Sekali lagi, ini hanya eforia sesaat yang harus dikontrol menjadi perpolitikan bermartabat. Tanpa dijelaskan para elit partai, rakyat sudah tahu akan tujuan merebut parlemen. Bahasa intelektual para tokoh, merebut otoritas politik demi perubahan Aceh. Lucu.

Ada segudang masalah yang belum selesai teungku. Ju ek manok selalu membawa cara pikir kita. Dulu semua sibuk soal Rancangan Undang-Undang Pemerintah (UU-PA). Bahkan Memorandum of Understanding (MoU) Helsinki menjadi hal yang krusial diperjuangkan.

Kini isi MoU dan UU-PA sepertinya bagai angin berlalu. Padahal pembentukan Partai Lokal (Parlok) hanya satu poin. Masih ada segudang poin lagi yang mesti diwujudkan. Misalkan pengadilan HAM, Rekonsiliasi dan bahkan soal pembagian hasil bumi Aceh, yang dulu menjadi perdebatan hangat. Kini itu pun berlalu.

Kita tahu, ini musim politik. Ada pemikiran, ini kesempatan yang harus dimanfaatkan. Berjuang untuk sesuatu tanpa kejelasan tujuan. Semua bilang sama, mensejahterakan rakyat, pendidikan murah, hapus korupsi dan aneka angin surga. Pada kenyataan, rakyat selalu dilibatkan pada saat-saat seperti ini.

Ingat Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) sebelumnya? Berapa banyak angin surga berhembus hingga hati kita yakin akan perubahan. Meski harus diakui, bahwa ini adalah sebuah proses yang sedang dilakukan. Berharap akan kebijakan yang radikal jauh panggang dari api dan kodok rindukan bulan. Jangankan mempertegas status Pemerintahan Aceh, pembahasan dana Otsus-Migas saja tidak mengarah dan bertele.

Belum lagi soal dana reintegrasi yang selalu di dikte. Harus begini anggarannya, harus begitu mekanismenya. Dan pada akhirnya, tak heran jika ratusan korban konflik tak lagi percaya pada penguasa. Menuntaskan kasus yang jelas korupsi saja tak mampu, apalagi mengembalikan uang negara dari individu yang rakus. Mustahil.

Cari format dan formula baru. Jika sekarang partai politik dianggap sebagai wadah paling ampuh untuk sebuah perubahan, maka ini hanya pemikiran kepentingan sesaat. Masuk dalam lingkaran sistem, maka kita harus mengikuti sistem yang ada. Munafik, jika awalnya saja sudah hitung-hitung kursi untuk diperebutkan. Dan rakyat menjadi penonton setia pada hitungan berikutnya.

Dan memberi tontotan tak hanya sekadar melalui partai. Karena tanpa sebuah pencerdasan politik, maka setiap era hanya ganti orangnya saja. Namun pada prinsipnya, prilaku tetap sama dalam kontek memandang perubahan. Dan sangat mungkin, kekerasan terjadi dalam wujud impitan beban hidup yang makin berat bercampur rasa frustasi. Ini akibat komplikasi situasi yang serba sensitif.

Bayangkan, jika kelak salah pilih warna bendera saja akan menerima tonjokan. Salah kampanye, dianggap pengkhianat dan hukumannya adalah pemukulan. Beda cara pandang dianggap musuh dan beda cara pikir dijadikan lawan. Ini tak hanya terjadi dalam kurun waktu puluhan tahun ke depan, sekarang saja kebencian ditanam tanpa sengaja.

Para elit boleh tutup mata atas benih kekerasan ini. Benih kekerasan pikiran yang tak mustahil menjadi kekerasan fisik. Jika pola dan gaya lama masih diterapkan dalam situasi damai. Bicara demokrasi hanya di mulut, pada aplikasinya tak mau surut. Inilah pemikiran yang harus disebarkan dengan menyelesaikan masalah tanpa masalah.

Bukan malah menyebar virus kebencian untuk perubahan ke arah kehancuran. Ini musim partai politik. Cuaca politik tak menentu. Iklim tidak menjamin keselamatan. Maka sebagai pemerhati cuaca, sudah seharusnya melihat perubahan iklim dan cuaca sebagai langkah awal mempersiapkan diri untuk tidak terjadi kekerasan. Jangan sampai energi dihabiskan untuk berperang mengadu domba, apalagi energi terkuras untuk menabur benci.




Blog EntryCERMINJul 16, '08 3:05 PM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

Tak jarang pikiran kita bergentayangan. Bahkan gentayangannya sampai berpikir telah mengenal diri sendiri, dan kerap berpikir sudah mengenal orang di sekeliling kita. Jika begini, ada satu pertanyaan, apakah benar kita telah mengenal diri sendiri dan memahami orang lain? Ini juga perlu ditanyakan di saat kita sedang menasehati orang lain. Apakah kita layak memberi nasehat kepada orang lain? Sementara kita tak paham dengan masalahnya? Itu sekadar input.

Bagaimana output-nya? Perasaan bukan buku yang dapat dengan mudahnya di baca dan dimengerti, perasaan adalah sekumpulan dari pengalaman hidup, emosi, situasi, kondisi dan lainnya. Hal itu dimiliki oleh setiap orang secara individu dan unik. Saya sendiri sedang berusaha belajar meluangkan waktu untuk mencoba memahami orang lain.

Usaha ini seringkali terhambat dengan kenyataan kalau saya belum bisa memahami diri saya sendiri. Masih banyak tanya tentang diri saya sendiri, sebelum saya berusaha memahami orang lain. Akan tetapi, upaya untuk memahami diri sendiri justru telah mengantarkan saya kepada suatu pemikiran sederhana mengenai apa dan bagaimana memahami diri sendiri.

Caranya mungkin begini. Untuk memahami diri sendiri, cobalah memahami orang lain. Dengan kata lain, kita menjadikan orang lain tersebut sebagai cerminan dari diri kita sendiri. Mungkin, setiap hari kita melihat orang emosi yang dapat kita jadikan cermin untuk diri kita sendiri.

Jika kita melihat ada orang yang marah ngga jelas sebabnya, maka sebaiknya kita berpikir, apakah kita juga pernah marah nggak jelas sebabnya? Ada contoh lainnya, ada rekan suka celoteh panjang lebar dengan tema aneka macam dan tidak fokus untuk sebuah pemahaman intelektual, kita bisa bertanya, apakah kita juga celoteh seperti itu? Mungkin kita bisa memahami diri sendiri dengan memahami orang atau rekan kita.

Jadi simpulan yang dapat saya ambil adalah “Semakin sering kita berinteraksi dengan orang lain dan semakin sering kita berupaya memahami orang lain, berarti semakin kita mendekati pemahaman terhadap diri kita sendiri. Dan pasti, kita juga bakal dihargai. Ode mandeeeeeeeee.



Blog EntryPELAKONJul 14, '08 5:40 AM
for everyone

Oleh: Andi Firdaus

Hidup kadang seperti seni, lakon dan mainan. Kadang asik, kadang menjengkelkan. Bahkan, Aristoteles mengungkapnya sebagai seni dalam hidup. Seni yang diperankan seperti drama di atas pentas. Berbentuk lakon-lakon, teater, serius bahkan berbagai bentuk acting lainnya.

Ada yang keliatan bodoh, tapi pintar memainkan kebodohannya. Ada berlagak pintar, tapi tak mampu melihat kepandaian si bodoh. Ini hanya lakon dalam sebuah pertunjukan. Sementara, penonton bersorak riuh dari sudut pandang individu dalam kerumunan.

Tertawa kadang bukan ditujukan ke pemeran si bodoh, justru sebaliknya. Begitulah kemeriahan sebuah pentas dari group seni yang baru pertama muncul di depan publik. Ada segelintir yang memuji, dan tak sedikit mencaci. Ini memang resiko jika bermain di depan ratusan pandangan mata.

Ada dua pihak, penonton dan pemain. Kita kerap melupakan di antara keduanya. Berbeda dengan Aristoteles, maka Goffman justru mendalaminya dari sudut sosiolagi. Bahkan ia kerap mentransformasikan aneka perilaku interaksi dalam kehidupannya. Perilaku itu diaduk ke dalam sebuah terminology sosial untuk dijadikan kepuasan ‘sepakat’.

Tak jarang perilaku itu tanpa disadari menonjolkan diri, bahkan menarik diri untuk menjadi aktor dadakan. Sementara penonton tertawa geli hingga menjadi tak berarti. Melakonkan diri terus bermain, tanpa melihat bahasa komunikasi verbal yang kerap berujung permainan di luar naskah.

Memahami karakter publik, rekan dan lainnya adalah bahasa verbal yang sungguh harus digunakan. Jangan disalahartikan, karena rekan dan publik akan meninggalkan pertunjukan yang egois. Pada ujungnya adalah menyembunyikan pertunjukan yang gagal secara diam-diam.

Bila kerja adalah pentas drama, maka kendalinya pada sutradara. Bagaimana kalau pentas adalah karakter? Jelas sutradara hanya bisa berkutat pada naskah, bukan menaskahkan karakter. Ini perlu dimengerti jika ingin pertunjukan tak hanya selesai, tapi memuaskan.
Sehingga tepuk sorak bukan sekadar manipulasi, tapi kepuasan.

Jika tidak, maka keringat yang sedang dipersiapakn untuk sebuah tujuan adalah utopia. Persiapan drama pun akan mengambang tanpa interaksi komunikasi yang dipersiapkan. Ada dua kemungkinan, kalau bukan penonton yang kecewa, tentu pemain yang jera.

Dalam dramaturgis, yang diperhitungkan adalah konsep menyeluruh bagaimana kita menghayati peran, sehingga dapat memberikan feedback sesuai yang kita inginkan. Mungkin, seorang pelakon yang tak bijak, lebih baik penonton kecewa, ketimbang dirinya jera. Toh, karena hanya pelakon, bukan panitia.




.




Blog EntryMOTIVASIJul 9, '08 2:26 AM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

Ada pepatah tua: manajer dapat dengan mudah menggiring kuda ke dalam air, tetapi manajer tidak dapat memaksanya untuk minum. Mengapa demikian? Karena kuda baru akan minum kalau ia sedang haus.


Begitu pula dengan manusia. Mereka baru akan mengerjakan sesuatu kalau ada yang mereka inginkan, atau sesuatu unsur yang membuat seseorang mengerjakannya. Tak hanya itu, lingkungan dan adanya stimulan dari luar juga bagian yang berpengaruh.

Kemampuan apapun yang dimiliki seseorang, motivasi dibutuhkan dalam sebuah pekerjaan. Dengan perkataan lain potensi sumber daya manusia adalah sesuatu yang terbatas. Kinerja seseorang merupakan fungsi dari faktor-faktor kemampuan dan motivasi dirinya.

Pekerjaan manajer adalah mendapat hasil atas apa yang dilakukan karyawannya. Tak hanya ‘selesai’ tetapi berkualitas. Mendapatkan hasil itu tentu manajer perlu memberi dorongan atau motivasi. Namun itu mudah diucapkan, sulit ditetapkan. Motivasi sebagai teori merupakan hal yang sulit untuk diimplementasikan karena ia menyangkut beragam disiplin ilmu dan background.

Motivasi diibaratkan sebagai jantungnya manajemen karyawan. Motivasi merupakan dorongan yang membuat karyawan melakukan sesuatu dengan cara dan mencapai tujuan. Tak berhasil mengelola karyawan, termasuk hasil yang diharapkan maka ini bagian dari format motivasi yang hilang. Dan, bersama harus mencarinya.

Manajer membutuhkan keterampilan untuk memahami dan menciptakan kondisi di mana semua anggota tim kerja dapat termotivasi. Ini tantangan besar karena tiap karyawan memiliki perbedaan karakteristik dan respons pada kondisi yang berbeda. Setiap individu adalah karakter tersendiri, yang kemudian dikelola menjadi karakter bersama. Ini lebih sulit.

Dalam kitap tajul muluk, ada banyak cerita ramalan dikisahkan. Dari karakter sebagai elang, kerbau, kambing, dan burung merak. Dan masing-masing memiliki gaya tersendiri. Jika seseorang dikategorikan burung merak, maka dia sering dinobatkan rapi dan necis. Begitu juga dengan yang lainnya.

Sementara, kondisi itu sendiri termasuk jenis persoalan. Apalagi menyatukannya dalam satu kandang. Jika pun bersama maka keanehan bakal terjadi. Beginilah, kondisi ketika kebersamaan karakter tidak disesuaikan dengan memberi dorongan atau motivasi.

Sebaliknya, karyawan yang tidak memiliki motivasi dicirikan antara lain oleh sering stres, sakit fisik, malas bekerja, kualitas kerja rendah, komunikasi personal yang kurang, dan masa bodoh dengan tugas pekerjaannya. Jika ia sebagai kuda, maka paksakan tendang ke dalam air. Jika tak mati, maka hausnya akan hilang. Tentu, ini bukan urusan kita. Karena yang kita butuhkan adalah binatang seperti unta, tanpa dipaksa dengan sendirinya haus di padang sahara.



Blog EntryPekerja BermoralJul 4, '08 4:58 AM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus
Satu tulisan terpampang di baju warna hitam milik teman sekerja. Tulisannya, “Jurnalis Juga Buruh Wak’. Mungkin, jika mengucapkan buruh, kita terbayang ke dalam pabrik-pabrik besar. Tapi sebenarnya, tanpa sadar kita juga buruh yang terus bekerja untuk melahirkan karya melalui rangkaian kata.

Saya tak mengulas devinisi buruh dan undang-undang perburuhan. Apalagi mengungkit berapa gaji yang seharusnya dibayar sesuai dengan Upah Minimum Kota (UMK) atau Upah Minimum Regional (UMR). Pada intinya adalah, buruh juga sebagai manusia yang bekerja demi banyak kepentingan.

Tulisan ini hanya bagian kecil bagi sentuhan melihat pekerja. Bukan pekerjanya, tapi bagaimana bekerja yang professional secara moral. Ini menjadi penting melihat seseorang bekerja professional dari sisi moral. Menurut saya, jika Anda ingin dianggap seperti itu, maka tiga hal menjadi pertimbangan. Tidak memaksa, tidak mengiba dan terakhir tidak berjanji.

Pertama misalnya keterpaksaan. Interaksi pekerja dan yang mempekerjakan (employee-employer) selalu muncul kesepakan sebelum dimulainya pekerjaan. Seandainya ada salah satu diantara kedua pihak merasa ada yang merasa terpaksa melakukan atau mengikuti aturan kerja, maka kemungkinan besar ada sesuatu yang tidak profesional dalam menangani perjanjian kerja ini.

Kedua adalah soal mengiba. Susuatu yang dilakukan dengan tindakan mengiba dalam sebuah pekerjaan juga bukan merupakan bagian dari kerja professional. Misalnya, ada karyawan datang kepada atasan memohon tidak di PHK dengan alasan aneka ragam. Sebagai pekerja professional yang bermoral, tindakan ini tidak akan pernah dilakukan. Karena perusahaan memilih seseorang bukan dari kasihan, dan seseorang bekerja juga bukan karena dikasihani.

Sementara yang terakhir soal tidak berjanji. Ada banyak program yang dituntut, seperti target produksi, target penjualan, serta target target perusahaan lainnya. Target tersebut hendaknya bukan merupakan janji, melainkan sebagai pemicu saja dan sebagai ‘alat ukur performance’ dari kedua pihak. Pekerja dan yang mempekerjakan.
Ketiga sikap di atas adalah cermin melihat pantulan cahaya keprofesionalitas individu-individu yang tergabung dalam sebuah perusahaan saat bekerja.

Tidak mengiba dari atasan atau bawahan, tidak memaksa atasan atau bawahan, dan tidak berjanji untuk bawahan dan atasan. Profesional secara moral adalah ukuran perkiraan awal membanguan kemajuan sebuah perusahaan. Jika menganggap diri seorang jurnalis atau yang memperkerjakan jurnalis, maka tulisan di baju rekan saya bisa ditambah, “Jurnalis juga buruh yang bermoral’.



Blog EntryLemah OtakJun 20, '08 2:49 PM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

Ada kalanya Lemah Otak (Lemot) datang tiba-tiba. Memang tak diundang, apalagi dinginkan. Jika begini, sebel, jengkel, gondok (entah kata-kata yang mana lagi) kerap mendampingi. Apalagi menjelang dikejar deadline, harus selesai besok, karena ini koran harian. Kondisi ini pasti pernah dialami banyak orang, bahkan orang yang pernah merasakan bernaung di bawah payung media. May be.

Jangan tanya apa sebabnya. Sebagai orang yang mempelari kejiwaan manusia, mungkin lebih tahu. Why, yang jelas bila dihadapkan dengan kondisi ini, bikin emosi tak stabil. Pinginnya marah melulu. Parahnya, kondisi ini dapat mempengaruhi pencernaan. Apa urusannya ya? Yang pasti tetap ada dong, seperti sering lapar. Ini terjadi karena beban kerjaan yang over load.

Tapi kalau dampaknya, banyak juga. Dan kalau gak mampu dimanage, berbahaya juga. misalnya emosi yang gak stabil. Selain emosi jadi gak stabil, juga jadi gak produktif. Nongkrong di depan komputer, tapi gak ngerjain apa pun, dan gak bisa juga diajak mikir. Kacau betulkan? Masalah semakin berat kalau kebetulan saat itu dead line dari kerjaan kita.

Boss, jika begini cari suasana baru. Jangan jauh-jauh karena dikirain menghilang dari pekerjaan. Cari aja tempat di sekitar tempat kerja. Ini juga berpengaruh bagi mata anda yang memang duluan lelah. Anda liat pemandangan, anak kecil main karet, liat bebek berdebat atau ayam menari. Rasanya sedikit bisa meringankan beban kerja kita. Tak percaya, besok sore coba aja ya?

Setelah itu, jangan langsung duduk di depan komputer. Jangan buru-buru mengerjakan tugas dulu, semacam edit berita ata mencari bahan di website. Ngobrol dulu sama rekan kerja semisal, Onooooooook. O nya panjang, biar kesan nadanya lucu. Atau sekali-kali buat aja gaya kocak, misal Loooo sich, dengan gaya terserah Loe aja deh. Jangan lama-lama, membosankan.



Blog Entry“PEMBERONTAK”Jun 16, '08 7:58 PM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

“Kamu siap jadi redaktur?” Pertanyaan itu menohok seperti memvonis. Jumat, sekitar pukul 02.00 siang adalah jawaban di antara pilihan. Saya harus memilih, menjadi pewarta atau menjadi tukang edit berita. Pertanyaan itu bagi saya bukan hanya sekadar mimpi, tapi harus memilih untuk beradaptasi dengan lingkungan baru. Saya harus pindah alamat. Bukan hanya itu, tapi juga meninggalkan aktivitas politik dan sosial lainnya. Saya dihadapkan pada pilihan-pilihan.

Kemudian, Short Message Service (SMS) kembali masuk ke mobile phone. Tawaran itu kembali menjadi hantu untuk sebuah pilihan. Tawaran menjadi redaktur bukan hanya sekadar pekerjaan mudah, apalagi di media yang baru usia seumur jagung. Jika pun collapse, maka mau tak mau apa yang saya tinggalkan sebelumnya sulit untuk kembali. Namun SMS itu melegakan saya, karena secara profesi kewartawanan, mungkin ini sebuah nilai tawar.

Memang, tawaran itu adalah sebuah kepercayaan. Tapi saya anggap sebagai tantangan. Karena tertantang untuk kemajuan dalam bagian perubahan itu sendiri. Bekerja yang dihadapkan pada tantangan merupakan seni tersendiri untuk kedewasaan berpikir masa depan. Tentu ini soal pola pikir.

Ternyata, dua bulan saya berada di lingkungan baru dan tempat kerja baru, saya dihadapkan dengan orang-orang “pemberontak” untuk sebuah perubahan. Apalagi ketika orang yang pada awalnya saya anggap hebat, ternyata juga memiliki karakter hampir sama. Funky, gaul dan sangat dewasa. Mungkin jam terbang dan pengalaman nasional yang membuat dia seperti bintang dalam redup media. Ini yang ku mau, hingga media di tangan Anda berbeda wajah.

Bangga rasanya bisa kenal "pemberontak" dari institusi yang sangat mapan dan konservatif. Sayang saya tidak bisa mengorek "what's next" dari isi kepalanya. Sepanjang obrolan dalam keseharian, tidak pernah putus saya bertanya dalam hati: kenapa orang hebat ini mau-maunya ngobrol dengan saya. Dan yang lebih penting, kenapa orang semapan itu mau bergabung dengan kami.***





Blog EntryPola PikirJun 10, '08 3:25 AM
for everyone
Oleh: Andi Firdaus

MENEROPONG masa depan berawal dari membangun pola pikir. Ada banyak hal, termasuk tantangan, pilihan dan menentukan arah sesuai keinginan melihat masa depan. Pakar psikologi Howard Gardner menuangkan ide dalam bukunya ‘Five Mind for the Future’. Ini soal teori kecerdasan majemuk yang dia paparkan melalui serangkain riset. Ada lima hal menjadi pertimbangan.

Pertama, mulai dari pikiran yang disipilin. Artinya berangkat dari suatu perilaku yang mencirikan disiplin ilmu, ketrampilan dan tentu soal profesi. Sebut saja ketika seorang praktisi terlibat dalam dunia bisnis dan manjemen, maka menguasai ilmu dalam bidang tersebut merupakan hal penting menjadi pekerja profesional.

Kedua, pikiran yang dapat menyerap berbagai informasi dari beragam sumber. Kemudian memahami dan meraciknya menjadi suatu pengetahuan yang baru. Inilah sentesa penting ketika banjir informasi mengalir. Tanpa bisa melihat perioritas informasi yang menjadi kebutuhan, maka akan tenggelam dan tergelincir dalam lautan informasi.

Ketiga, pikiran yang mencoba membentangkan pertanyaan tak terduga, termasuk memaparkan cara berpikir baru. Pola pikir inilah yang akan membuat kita mampu berpikir secara lateral dan bukan sekedar berpikir linear mengikuti jalur konvensional yang acap hanya akan membuat kita stagnan. Bergerak maju, progresif, demi terciptanya sejarah hidup yang positif dan bermakna.

Empat, pola pikir menyambut perbedaan pandangan dengan sukacita, dan bukan dengan sikap saling curiga. Sebuah pola pikir yang akan membuat kita terhindar dari anarki akibat pemaksaan kepentingan. Sebuah pola pikir yang senantiasa mengajak kita untuk merayakan keragaman pandangan dan sekaligus menghadirkan empati.

Dan pola pikir yang terakhir adalah etis. Inilah pola pikir yang membujuk membangun kemuliaan dan keluhuran dalam kehidupan personal dan profesional kita. Sebab pada akhirnya, bagaimana mungkin menjadi ‘terbaik’ jika pola pikir masih berselimut dengki, cemburu, sok tahu dan merasa hebat.***




Pages:1234
© 2008 Multiply, Inc.    About · Blog · Terms · Privacy · Corp Info · Contact Us · Help